~ SuperTechno ~

Mengupas Ilmiah Technolgy dan Syariat

PLTN Muria: Demi Gengsi Abaikan Rakyat

Ditulis oleh akhiridwan di/pada November 21, 2006

www.walhi.or.id – Dalam sosialisasi yang diadakan oleh Mitsubitshi Heavy Industries (MHI) bersama BATAN pada 17 – 18 Mei 2004 di Jakarta, terungkap bahwa MHI akan kembali menanamkan investasi untuk pembangunan PLTN di Muria. Perusahaan yang menyatakan mempunyai banyak pengalaman dalam suplai ketenagalistrikan di Indonesia menyatakan siap untuk ikut investasi PLTN di Muria.Tahun 1989, anak perusahaan MHI, yaitu NewJec telah menandatangi kontrak untuk studi tapak dan studi kelayakan sampai pertengahan 1996. Setelah menyerahkan dokumen penelitian dilanjutkan oleh Korean Hydro Nuclear Power Co. LTD (KNHP).  KNHP merupakan anak perusahaan KEPCO Korea yang mendapatkan kontrak untuk melakukan feasibility study (studi kelayakan) dan pembangunan PLTN Muria di Jepara.  Sedianya, pembangunan PLTN ini akan dimulai pada tahun 2011 dengan kapasitas 6000 MG. Proses ini kemudian dipeti-eskan karena adanya aksi penolakan, baik di wilayah Jawa Tengah, nasional, maupun internasional.

Namun, rupanya pemerintah tetap bersikukuh untuk melakukan  pembangunan PLTN Muria. Bahkan, perangkat untuk menjustifikasi bahwa PLTN Muria diperlukan  bagi masyarakat terus dilakukan. Alasan yang dikemukakan oleh pemerintah adalah adanya krisis energi listrik yang sudah tidak mencukupi untuk kawasan Jawa dan Bali. Proses sosialisasi terus dilakukan dengan menggunakan hasil riset berbagai kampus tanpa mempedulikan aspirasi masyarakat. Pemerintah tampak menutup mata dengan puluhan bencana akibat nuklir di berbagai negara.

Menurut BATAN, PLTN Muria dapat dioperasionalisasikan pada tahun 2015 atau paling lambat 2016. Adapun pembangunan akan dimulai tahun 2008  dan proses sosialisasi kepada masyarakat akan segera dimulai setelah survei lapangan dan riset sikap masyarakat selesai dilaksanakan pada tahun ini.  Semua itu, jelas memutarbalikkan fakta, pemerintah tampaknya berjalan ngebut dan menutup mata dengan segala dampak dan proses penolakan yang ada sejak tahun 1998 hingga saat ini, dan tetap akan merealisasikan rencana tersebut.

Teknologi yang Digunakan

Menurut MHI dan BATAN, teknologi yang akan digunakan dalam PLTN Muria adalah Pressurized Water  Reactor (PWR) atau Reaktor Air Tekan. Teknologi ini merupakan reaktor yang menggunakan air sebagai pendingin dan moderator dan uranium sedikit diperkaya sebagai bahan  bakar.  Panas yang dihasilkan di dalam teras reaktor melalui reaksi pembelahan inti uranium dipindahkan ke sistem pendingin primer. Selanjutnya, diangkut dan dipindahkan ke sistem sekunder melalui pembangkit uap. Uap yang dihasilkan digunakan untuk memutar turbin yang disambungkan ke genarator listrik, sehingga menghasilkan listrik.

Deskripsi Tapak Proyek

Rencana tapak (lokasi) proyek pembangunan PLTN Muria terletak di area Perkebunan kakao di Ujung Lemahabang, Ujung Watu dan Ujung Genggrengan di Kecamatan Bangsri, dan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Lokasi tersebut merupakan tanah milik negara. Ujung Lemah Abang merupakan wilayah bebas hunian karena merupakan areal perkebunan kakao/coklat dan kelapa yang menjadi milik PTP XVIII Beji. Sementara itu, lokasi pemukiman penduduk terletak 3 kilomenter dari Ujung Lemah Abang.

Selain itu, menurut BATAN lokasi tersebut dianggap paling aman dari segi seismik di mana aman dari gempa, gerakan tanah, longsor, banjir, dan berbagai bencana alam lainnya. Padahal menurut pengakuan masyarakat dalam dua tahun terakhir, mereka merasakan gempa mikro yang memungkinkan adanya gempa yang lebih besar. Gempa tersebut, menurut masyarakat, sering tidak diketahui oleh pemerintah melalui  alat pengukur gempa karena sering tidak aktif.

Meski demikian, bukan berarti pemilihan lokasi tersebut tidak menimbulkan gejolak dalam masyarakat. Lokasi-lokasi sekitar tiga tapak tersebut selalu gelisah, bahkan lokasi tambak, pertanian, perkebunan, dan pemukiman, seperti dikejar-kejar hantu yang mengerikan. Meski tidak terang-terangan, lokasi sekitar tambak mulai diintimidasi dan mulai mendapatkan teror untuk segera ditinggalkan oleh pemiliknya.

Kekhawatiran masyarakat di Jawa Tengah makin meluas. Hal ini mengingatkan sosialisasi dan rencana PLTN Muria pada tahun 1998 dan ditunda hingga saat ini sampai  munculnya kembali  rencana PLTN yang akan direalisasikan tahun 2016.

Penolakan oleh Masyarakat

Tanggal 24 – 25 Pebruari 2004, di Pondok Pesantren Surodadi, Kedung, Jepara, masyarakat Jepara bersama tokoh masyarakat dan LSM mengadakan kajian wacana empiris dan teoretis mengenai pembangunan PLTN Muria dan menyimpulkan bahwa masyarakat menolak energi tersebut dibangun di Jawa Tengah, bahkan di Indonesia sekalipun, dengan alasan sangat  membahayakan bagi generasi yang akan datang dan peradaban manusia.  Pernyataan kebulatan tekad tersebut akan direalisasikan dalam bentuk perjuangan bersama untuk penolakan nuklir di Indonesia

3 Tanggapan ke “PLTN Muria: Demi Gengsi Abaikan Rakyat”

  1. akhiridwan berkata

    semoga menjadi renungan

  2. InfoEnergi berkata

    Bagi sebagian negara berkembang, teknologi nuklir seolah menjadi hal yang menjanjikan, baik sebagai solusi pemenuhan kebutuhan energi maupun sebagai simbol penguasaan teknologi. Sayangnya, anggapan ini tidak selalu benar. Cerita pengalaman beberapa negara berkembang yang susungguhnya dalam membangun PLTN bisa dilihat di infoenergi.wordpress.com

  3. dibyo wahyono berkata

    Mengapa harus PLTN .Sumber yang lain masih banyak mis : tenaga angin tenaga surya,tenaga ombak,tenaga pasangsurut,tenaga panas bumi. Yang tidak membahayakan lingkungan

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>